Normalkah Aku?

Categories Masturbasi
1



Bila dibandingkan dengan rekan kerja yang lain, aku termasuk beruntung karena dapat mengakses Internet sepuasnya sedang rekan kerja yang lain banyak yang menggunakan komputer hanya sebagai fasilitas kerja.

Yang menjadi masalah, aku terlalu cepat mudah terangsang. Bila nafsu itu sudah terlalu tinggi, aku akan pergi ke toilet lalu melakukan masturbasi di sana. Aku jarang menggunakan jari. Alat favoritku adalah pulpen yang berkepala bulat dan halus. Dengan pulpen itulah aku menggosok kepala clitoris (terletak tepat dibawah titik pertemuan labia minora) sampai orgasme. Dulu aku pernah menggunakan metode semprotan air, tapi sudah aku hentikan karena aku pernah membaca cara seperti ini dapat merusak selaput dara (hymen).

Pernah sekali waktu kumemasukkan satu jariku ke dalam lubang vagina dengan jari tengah tangan kananku. Herannya, aku saat itu tidak merasa sakit. Yang ada hanya rasa nikmat ketika ujung jariku menyentuh dinding vagina sebelah atas. Setelah masuk, aku menggerakkan jari tanganku maju mundur sambil membayangkan sedang bersenggama dengan pria idamanku. Ternyata dinding vagina tidak licin dan halus seperti lubang vagina sebelah luar. Bentuknya berkerut-kerut, agak keras dan bila aku berkontraksi, jariku dapat terjepit sangat kuat. Setiap gesekan rasanya nikmat sekali. Jantungku berdebar kencang dan nafasku mulai tidak teratur. Rasanya aku ingin berteriak tapi karena aku takut suaraku terdengar keluar, aku menahannya sambil merapatkan bibirku kuat-kuat. Setelah beberapa saat, aku benar-benar mencapai klimaks. Darah berdesir di seluruh tubuhku. Buah dadaku beserta puting susunya mengeras. Semakin cepat dan keras dinding vagina kugosok semakin nikmat rasanya. Lalu tiba-tiba aku merasakan sesuatu hal yang sangat luar biasa. Seluruh otot tubuh rasanya mengejang kuat. Lubang vaginaku tiba-tiba mengkerut. Aku mengalami orgasme yang luar biasa. Belum pernah aku merasakan nikmat seperti ini bila aku bermasturbasi hanya dengan menggosok klitoris.

Setelah puas, aku baru sadar bahwa perbuatanku tadi bisa merusak selaput daraku. Cepat-cepat aku mengambil tissue lalu menggosokkannya ke bibir vaginaku. Ternyata aku tidak melihat sedikitpun noda darah. Yang ada hanya cairan vagina berwarna putih lagi berbau (aku tidak tahan mencium baunya tapi mengapa banyak lelaki suka menghirupnya?). Apakah aku masih perawan? Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab. Pernah aku berniat memeriksakannya ke bidan atau dokter tapi aku malu.

Akhir-akhir ini aku punya cara baru. Sebenarnya teknik ini tidak sengaja kutemukan. Saat sedang bekerja, aku merasakan hendak pipis tapi karena sedang tanggung, aku menahannya sambil merapatkan kedua pahaku kuat-kuat. Ternyata aku mendapatkan kenikmatan tersendiri dengan cara seperti ini. Bila aku sudah tidak kuat menahan air pipis, aku menuju toilet lalu menggosok di sekitar lubang urethra (saluran pipis). Beberapa menit kemudian aku mendapat orgasme sambil mengeluarkan air seni. Nikmat sekali, dan rasanya berbeda bila aku mendapatkan orgasme dengan cara menggosok klitoris atau menggosok lubang vagina sebelah dalam.

Bila sedang tidak terangsang, timbul rasa penyesalan dalam diriku. Aku merasa sangat berdosa. Aku juga takut perbuatan itu bisa merusak tubuhku, atau setidaknya merusak selaput daraku. Bagaimana bila dalam malam pertama nanti aku tidak mengeluarkan darah? Apa yang harus kukatakan pada suamiku? Aku benar-benar bingung.

TAMAT

One thought on “Normalkah Aku?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *