Bosku dan Seniorku 01

Categories Sesama Pria
0



Mengapa tiba-tiba jantungku terasa berdesir ketika melihat celana dalam Pak Hans yang mengecap di balik celana olahraganya. Darahku terasa mengalir ketika melihat goyangan pantat Pak Hans bergerak seksi mengikuti gerakan instruktur senam. Setelah senam pagi di kantorku usai, seperti biasa kami langsung memasuki ruang kerja masing-masing untuk melaksanakan tugas rutin kantor.

Saya bekerja dalam satu ruangan dengan Pak Hans. Pak Hans merupakan seniorku sekaligus orang yang selalu memberi tumpangan aku baik berangkat maupun pulang kerja. Maklum, aku merupakan karyawan terbaru di kantor tersebut, dan aku kost di sekitar rumah Pak Hans, karena aku berasal dari desa. Dengan ruangan kerja yang lumayan besar tetapi hanya ditempati dua orang, tentu saja membuat kami terlalu bebas dalam bekerja. Kadang kami bermain game di komputer jika tak ada kerjaan, bahkan Pak Hans sering membawa VCD porno dari rumah, dan kadang memutarnya di ruang kerja. Dan kami pun sering menonton bersama ketika lagi tidak ada kerjaan.

Sehabis senam aku merasakan tubuhku malas untuk diajak bekerja, dan seperti biasa aku memutar lagu-lagu MP3 di komputerku untuk melepas kejenuhan.
“Lagi malas, Dik Bram..?” tiba-tiba suara Pak Hans mengejutkanku.
Ketika kuangkat kepalaku, ternyata Pak Hans sudah ada di depan meja kerjaku.
“Iya, nich Pak..! Habis mikirin kerjaan nggak pernah ada habisnya.” sahutku sambil memandangi wajah Pak Hans di hadapanku.

Diam-diam baru kali ini aku mengagumi wajah Pak Hans yang begitu ganteng, rambutnya hitam yang tersisir rapi, kumisnya lebat tapi tertata rapi, juga dagunya yang berwarna hijau karena bekas dicukur. Tanpa sadar mataku terus menelusuri penampilan Pak Hans, betapa tegapnya dia walaupun usianya 40 tahun, lebih tua 14 tahun dari umurku, tetapi Pak Hans masih kelihatan gagah. Kulitnya putih bersih, dan kedua tangannya yang tertutup bulu lebat semakin melengkapi kegagahannya. Baru kali ini aku mengagumi kesempurnaan seorang pria. Tanpa kusadari, tiba-tiba mataku mulai melirik ke bawah, tepatnya di depan meja kerjaku. Disana aku melihat suatu benda yang menonjol dan melingkar dari balik celana olah raga Pak Hans yang dekat merapat di ujung meja kerjaku.

“Ada apa Dik, kok bengong..?” pertanyaan Pak Hans mengejutkanku.”Nggak pa-pa kok Pak..,” jawabku sekenanya.
“Pak Hans sendiri akhir-akhir ini kok kelihatan kurang bergairah..?” ganti aku mulai coba bertanya.
Sambil mendekatiku dari samping, dia mulai duduk di meja kerjaku.
“Yach.., beginilah Dik Bram, nasib bujangan.” sahut Pak Hans.
“Lho.., emangnya istri Pak Hans dikemanain..?” tanyaku sedikit heran.
“Istriku lagi hamil tua Dik, dan aku pulangin ke rumah mertua daripada disini nanti repot dan nggak ada yang ngurusin.”
“Wah, berarti tiap malam Pak Hans kesepian dong..?” kataku sambil menggoda Pak Hans.
“Iya Dik, udah tiga bulan ini aku nggak pernah hubungan lagi.” jawab Pak Hans dengan nada lesu.

Entah setan apa yang merasuki pikiranku sehingga tiba-tiba mataku kembali melirik suatu benda bersarang dari balik celana olah raga Pak Hans. Tanpa kusadari pula tanganku berani-beraninya meraba tonjolan di dalam celana olah raga Pak Hans. Aku terkejut dan baru tersadar ketika tangan Pak Hans memegang erat tanganku. Aku malu dan ketakutan melihat Pak Hans memandangi wajahku. Sesekali kulihat matanya yang teduh.”Maaf kan saya Pak, saya nggak sadar. Dan saya juga heran kenapa tiba-tiba saja saya tertarik dengan penampilan Pak Hans. Sekali lagi saya minta maaf Pak.” kuucapkan perminta maafaku dengan nada ketakutan, dan Pak Hans pun diam saja. Aku gemetaran dan takut setengah mati.

Sesaat kulirik matanya, Pak Hans malah tersenyum. Tanpa kusadari, tangan Pak Hans tiba-tiba meraih tangan kananku, dan diletakkannya tanganku tepat di atas batang kemaluannya yang masih tertutup celana olah raganya. Aku pun bertambah bingung melihat perlakuan Pak Hans. Tanpa kusadari tangan Pak Hans mulai membimbing tanganku. Diusap-usapkannya tangan kananku hingga menyentuh batang kemaluannya, dan aku pun menurut saja dengan penuh penasaran. Mungkin sudah tiga bulan lamanya batang kemaluannya tidak ada yang menyentuh, pikirku.

Sesaat kulihat wajah Pak Hans, dia malah tersenyum manis dan sambil menganggukkan kepala. Aku pun mencoba untuk mengerti apa arti dari anggukkan kepalanya. Entah setan apa yang telah merasuki pikiranku, hingga aku benar-benar menyukai Pak Hans. Padahal selama ini aku adalah seorang laki-laki tulen. Dan aku pun mulai memberanikan diri merogohkan tangan kananku masuk ke dalam celana Pak Hans. Kucari benda yang membuatku penasaran tadi, dan akhirnya kutemukan seonggok urat yang begitu besar dari dalam celananya. Tanganku mulai merasakan hangatnya daging yang masih bersarang dan serabut kasar dari dalam celananya.

“Ahh.. oh my god.. ahhhhh..” kudengar desahan dari mulut Pak Hans, dan kulihat matanya mulai merem melek karena menikmati rogohan tanganku.
Desahan Pak Hans membuatku mulai makin berani untuk melorotkan celana olahraganya. Kulihat CD-nya yang berwarna hijau muda dan tonjolan pistol Pak Hans yang mulai membengkak, hingga kepala batangnya yang berwarna merah sedikit melongok keluar dari CD-nya. Kupelorotkan CD Pak Hans, aku sempat heran dan sangat terkejut melihat pemandangan yang sangat unik di depan mataku. Aku hampir saja tertawa, tetapi dapat kutahan.

Baru kali ini aku melihat nyata kemaluan Pak Hans yang sangat aneh. Kepala batang kemaluan Pak Hans ternyata sangatlah besar, tidak sesuai dengan ukuran batangnya, walaupun batang pistolnya juga tergolong besar dan panjang. Yang membuatku heran adalah ukuran pentolan atau kepala pistol Pak Hans, benar-benar melebihi ukuran normal, jika kubandingkan mungkin sebesar telur ayam potong.

Kutelusuri rambut kemaluan Pak Hans yang begitu lebat dan sangat kasar. Tanganku kubiarkan gerilya di sekitar kedua lipatan paha Pak Hans, dan telapak tanganku mulai menyentuh suatu benda yang kenyal dan menggantung di bawah batang kemaluan Pak Hans, buah zakar Pak Hans ternyata juga besar tetapi bentuknya sedikit lembek dan melorot ke bawah. Kuraba sambil sesekali kuremas buah zakar Pak Hans yang dilapisi kantung tipis. Kurasakan begitu halusnya kantung buah zakar Pak Hans ini. Selembut sutra.

Kuciumi batang kemaluan Pak Hans, kunikmati aroma kejantanan Pak Hans. Ohh betapa nikmatnya, aromanya begitu khas masculine walaupun sedikit asam karena bau keringatnya sehabis senam tadi pagi. Bulunya begitu lebat sekali di sekitar senjatanya, terus memenuhi hingga paha dan kakinya dan sedikit basah karena keringat. Segera kuhisap dan kunikmati buah zakarnya. Kukocok batang kemaluan Pak Hans yang mulai menegang. Batang pistolnya begitu besar, dan kulihat guratan-guratan otot yang melingkari batang pistolnya.

“Ohhh… nikmat… sekali.. teruuss.. kocok teruusss.. oohhh..!” beberapa kali Pak Hans mengerang menikmati kocokan tanganku.
Kujilati kepala kemaluannya walaupun hal ini terus terang belum pernah kulakukan seumur hidupku, dan mulutku mulai mengulum pentolan kemaluan Pak Hans. Semula pentolannya tidak mampu kumasukkan ke mulutku karena pentolan Pak Hans sangatlah besar dibandingkan dengan lubang mulutku, tetapi kupaksakan hingga pentolan itu dapat memasuki rongga mulutku.

“Ohhh teruusss… ahhh… lagiii.. Dik Bram, enak sekali… terusss..!” Pak Hans kembali mengerang merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Kujilatkan ujung lidahku hingga menelusuri seluruh permukaan pentolan pistol Pak Hans. Ohh.., Pak Hans pun semakin kelojatan menikmati jilatanku, kulihat Pak Hans mulai menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur, sesekali tangannya menjambak rambutku dengan kuatnya. Aku mulai kerepotan menahan mulutku yang penuh sesak dimasuki pistolnya. Ditarik dan ditekannya kepalaku hingga mulutku maju mundur tertusuk pistolnya.

“Ohh… aku mau keluar… ahhh.. nikmat..! Aku mau keluar… Dik Bram..!” desis Pak Hans ketika akan orgasme.
Seketika itu kukeluarkan batang kemaluan Pak Hans dari dalam mulutku, karena aku jijik jika mulutku nanti kesemprot lahar putih dari pistol Pak Hans.
“Dikeluarkan di luar saja, ya Pak Hans..?” bisikku lembut di telinganya.
Dan Pak Hans pun hanya mengangguk tidak berdaya menahan nikmat yang luar biasa.

Kembali batang kemaluan Pak Hans kupegang kuat-kuat dan kukocok dengan irama kocokan cepat, dan, “Ahhh… aughhh.. lebih cepat Dik Bram..! Ahhh… crottt.. croott.. glogok..” dan Pak Hans pun sudah tidak dapat menahan semprotan sperma dari dalam batang kemaluannya.
Kuarahkan semprotan tersebut di atas meja kerjaku, aku kagum sekali melihat banyaknya sperma Pak Hans yang putih kental membanjiri meja kerjaku. Mungkin karena sudah tiga bulan spermanya tertahan di buah zakarnya, sehingga sperma yang dikeluarkan sangatlah banyak dan tidaklah wajar jika dibandingkan dengan lelaki normal.

Kulihat Pak Hans mulai terkulai lemas dan memelukku. Tanpa kusadari, dia memegang kepalaku lalu mencium bibirku. Aku kaget dan heran mendapat perlakuan Pak Hans, baru kali ini aku dicium seorang pria, dan kurasakan betapa hangatnya ciuman dari Pak Hans.
“Makasih ya Dik Bram..!” bisik Pak Hans di telingaku sambil membetulkan kembali celana olahraganya.

Tanpa kusadari, tiba-tiba pintu ruangan kerjaku dibuka oleh seseorang. Astaga.., ternyata yang datang Pak Baskoro atasan kami di kantor. Dengan secepat kilat kututupi sperma Pak Hans yang membanjiri mejaku dengan empat lembar kertas HVS.
“Pagi, Pak..!” sapa kami bersamaan.
“Pagi..!” jawab Pak Baskoro.
“Apa ini Bram..?” tanya Pak Baskoro sambil menciumi telapak tangannya yang basah, mungkin menyentuh sperma Pak Hans yang tidak sempat tertutup kertas.
Wajahku seketika merah padam, begitu juga Pak Hans.

“Eh.. anu.. Pak, tadi bubur kacang ijo saya tumpah, tadinya mau saya makan malah kesenggol Pak Hans..” jawabku sekenanya.
“Iya Pak, sorry ya Dik Bram, besok hari Jum’at kalo senam lagi kuganti dech..” Pak Hans tiba-tiba ikut membantuku.
“Ya sudah-sudah, lain kali kalo ada kondisi seperti ini harusnya kamu panggil cleaning service biar nggak kelihatan jorok..!”
“O.. Ya, laporan keuangan kemarin apa sudah selesai Bram..?” tanya Pak Baskoro lagi.
“Maaf.. Pak, sebenarnya hari ini sudah saya ajukan ke Bapak, tapi berhubung disket saya hilang, jadi semua file saya juga ikut hilang. Sekali lagi saya mohon maaf Pak, dan saya berjanji besok Senin laporan sudah saya serahkan di meja Bapak.” jawabku sedikit berbohong, karena memang laporan tersebut belum kuselesaikan.

“Kalau besok Senin kelamaan Bram, soalnya besok minggu aku rencana mau tanding Golf dengan Bapak Manajer sekalian menyerahkan laporan tersebut. Gimana kalo besok Sabtu, kamu lembur buat menyelesaikan laporan itu..”
“Wah kalo besok lembur, saya numpang siapa Pak..? Tempat kost saya jauh dan belum ada angkutan umum. Lagipula Pak Hans besok khan libur..?” tanyaku.
“Ya udah, besok kamu numpang aku saja, aku juga ada kerjaan yang belum bisa kuselesaikan hari ini..” sahut Pak Baskoro.
“Trima kasih Pak, wah saya jadi merepotkan Bapak saja..,” jawabku sedikit basa-basi.

Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan angka 16.30 WIB, aku dan Pak Hans berkemas untuk pulang. Seperti biasa, aku selalu pulang bersama Pak Hans, karena tempat kostku sejalan dan satu komplek dengannya.

Mobil sudah berhenti di depan pintu pagar rumah Pak Hans, dan seperti biasa aku harus siap-siap turun untuk jalan kaki menuju tempat kostku.
“Dik Bram, tidur di rumah saya saja gimana..?” tiba-tiba Pak Hans menawarkan jasa kepadaku.
“Enggak lah Pak, tempat kost saya cuma dekat kok..,” sahutku masih dari dalam mobilnya.
“Nggak pa-pa kok Dik, lagian disini saya sendirian dan Dik Bram juga sendiri di tempat kost, khan kita bisa ngorol bersama. Lagian nanti malam ada Liga Italy lho, khan di tempat kost Dik Bram nggak ada TV-nya.”
Pak Hans tahu saja kalau tempat kostku memang tidak ada TV-nya.
“Bener nich nggak ngerepotin Pak Hans..?” tanyaku basa-basi.
Pak Hans hanya tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya, aku pun mengangguk tanda setuju.

Aku sempat heran melihat kamar Pak Hans yang begitu luas jika dibandingkan dengan kamar kostku. Pak Hans mengambil remote dan menyalakan TV.
“Anggap seperti rumah sendiri Dik..!” kata Pak Hans sambil membetulkan spray spring bed-nya.
“Dik Bram saya tinggal mandi dulu ya..?” kutengok asal suara tadi, ternyata Pak Hans sudah berlalu ke dalam kamar mandi yang letaknya masih satu kotak dengan kamar tidurnya.
Kucari acara-acara TV, “Sialan..!” umpatku dalam hati karena tidak kutemukan acara yang bagus.

Bersambung ke bagian 02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *