Bosku dan Seniorku 02

Categories Sesama Pria
0



Sambungan dari bagian 01

Aku dengar suara percikan sower dari dalam kamar mandi, dan aku menoleh.. oh ternyata Pak Hans lupa menutup pintu kamar mandinya pikirku. Kupandangi lekuk-lekuk tubuh Pak Hans yang mengkilap karena basah. Betapa gagahnya orang tua ini, sanjungku dalam hati. Kulihat pantatnya yang putih bersih dan sintal tidak seperti pantatku yang sedikit coklat, maklumlah orang desa! Dadanya yang bidang penuh ditumbuhi bulu-bulu kejantanan. Pistolnya yang masih terkulai lemas dirimbuni rambut-rambut hitam yang lebat mungkin tidak pernah dicukur, ah.., betapa indahnya pentolan ujung pistolnya yang berukuran XL, kubayangkan kemaluan Pak Hans mirip pemukul gong.

“Dik Bram juga mau mandi..?” tanpa kusadari ternyata Pak Hans tahu kalau aku sedang mengamati tubuhnya yang lagi bugil.
“Nggak ah, nanti saja Pak Hans! Males, hawanya dingin.” jawabku.
“Lho, ini airnya hangat lho Dik, saya pake pemanas air kok.”
Aku baru tahu kalau Pak Hans memakai pemanas air.
“Dasar orang udik..!” pikirku memaki diriku sendiri.
“Ayo Dik Bram, segerr lho kalo badan udah mandi..” ajak Pak Hans lagi.
Aku diam saja.

“Wah.., Dik Bram malu ya mandi bareng Bapak. Masa sama cowoknya kok malu sih, lagian punya kita khan sama he.. he..” Pak Hans mecoba menggodaku.
Dan aku pun tidak dapat menolak ajakan Pak Hans, benar juga pikirku, ngapain harus malu. Kami kan sama cowoknya, dasar ‘wong ndeso’..!

Kulepas baju dan celanaku. Tinggal celana dalamku saja yang kupakai, lalu aku memasuki kamar mandi yang begitu luas buat ukuranku. Pak Hans memberikan gagang sower kepadaku, dan aku mulai mengguyur wajahku sampai seluruh permukaan tubuhku. Seger juga rasanya, baru kali ini aku merasakan nikmatnya mandi dengan air hangat. Sesekali kulirik tubuh Pak Hans, kulihat pula batang kemaluannya yang begitu besar bila dibanding dengan punyaku. Tanpa kusadari, tiba-tiba aku mulai terangsang melihat pemandangan itu. Aku juga heran kenapa aku tertarik kepada Pak Hans. Dan kurasakan senjataku mulai mengeras dan tegak hingga pentolan pistolku mulai menjulang dan berontak ingin keluar dari CD-ku yang berwarna putih.

“Wah.., gawat nich..!” pikirku seketika itu.
Kubalikkan badanku agar Pak Hans tidak mengetahui kalau pistolku membengkak tanda mulai bereaksi.
“Mandi kok celana dalamnya nggak dilepas sich Dik Bram, apa bisa bersih..?” tiba-tiba tangan Pak Hans menurunkan CD-ku yang berwarna putih.
Aku terkejut mendapat perlakuan Pak Hans. Dan dengan gerakan reflek aku menutupi batang kemaluanku dengan kedua tanganku, ternyata kedua tanganku tidak mampu menutupi seluruh permukaan pistolku yang dikarenakan besarnya ukuran pistolku saat berdiri tegak.

Pak Hans malah tersenyum melihat tingkah lakuku, sesekali matanya yang teduh dan nakal menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Kulihat dia malah senyum-senyum. Aku tambah semakin gerogi mendapat perlakuan seperti ini.
“Kenapa Dik Bram, malu sama Bapak ya..?” tanya Pak Hans sambil mengulurkan tangannya mencoba menyentuh pistolku yang semakin keras dan tegak.
“Punya kamu ternyata gede juga ya..?” goda Pak Hans sambil mengelus pistolku.
“Jangan ah, Pak Hans..” ucapku karena malu, sambil mencoba melepaskan tangan Pak Hans yang sudah memegang kuat batang pistolku.

“Lho.., tadi pagi kan Dik Bram sudah pegang punya Bapak, lha sekarang supaya adil gantian Bapak yang pegang punya Dik Bram dong..!” kata Pak Hans sambil sesekali mengocok batang pistolku.
Aku tidak dapat menolak perlakuan dari Pak Hans, dan akhirnya kupasrahkan saja apa yang dia kehendaki. Tangan kiri Pak Hans terus mengocok batang pistolku dengan lembutnya, sesekali mengelus dan meremas buah zakarku yang masih menggantung. Ahhh… betapa nikmatnya, dan aku pun mulai menikmatinya.

Diusapnya rambut kemaluanku dengan tangan kirinya, terus naik ke dadaku dan turun kembali berhenti ke pangkal buah zakarku. Tangan kanannya meremas-remas pantatku, dan sesekali diselipkan diantara lipatan pantatku. Jari-jarinya mulai nakal bermain di sekitar lubang anusku. Oohhh.., nikmat sekali. Kemudian tangan kanannya beralih menelusuri dadaku yang tidak berbulu, diusapnya puting susuku. Bibirnya mulai mendarat di bibirku, dikulumnya mulutku dengan penuh nafsu hingga aku hampir pingsan karena tidak dapat bernafas. Kurasakan hangatnya bibir Pak Hans, lidahnya menjelajahi gusi, gigi, dan langit-langit mulutku. Aku tidak tahan menahan geli karena tertusuk kumisnya yang lebat. Ahh.., baru kali ini aku merasakan rasa nikmat yang luar biasa.

Sesekali kulirik pistol Pak Hans, ternyata pistolnya sudah berdiri dengan kuatnya. Wow… betapa besar dan indahnya kemaluan orang tua ini pikirku. Kulihat guratan-guratan otot melingkari batang kemaluannya. Rambut kemaluannya yang lebat menggodaku untuk memegang pistolnya. Dikocoknya batang pistolku oleh tangan kiri Pak Hans dengan lembut, sesekali tangannya yang kuat meremas buah zakarku dengan nakal.
“Ahhh… nikmat sekali Pak Hans.”
Aku menggeliat, menahan nikmatnya kocokan dan remasan tangan Pak Hans. Aku hanya menutup mata sambil menikmati permainan ini.

Tanpa kusadari, ternyata batang pistolku sudah masuk di mulutnya.
“Ahh… hangat.., ohhh… diapakan ini.. Pak Hans..? Enak sekali..!” aku tidak tahan merasakan nikmat yang begitu luar biasa.
Dan aku juga geli menahan rasa gesekan kumis Pak Hans yang sangat lebat. Diambilnya gagang sower dari tanganku, dan disemprotkannya ke panggkal pahaku.
“Ahh… geli.. Pak Hans.. enak.. ohhh..” sesekali aku menggeliat keenakan.

Tiba-tiba Pak Hans jongkok membelakangiku, aku sempat heran melihatnya. Dan dia mulai menungging dan memamerkan pantatnya di hadapanku. Aku sempat geli ketika melihat telur Pak Hans yang menggantung mirip buah mangga dari tanggkainya. Kulihat pantat Pak Hans penuh tertutup rambut, di sela-sela pantatnya aku sempat melihat lubang yang cukup lebar. Lubang anus Pak Hans sangatlah indah karena kulitnya putih, tidak heran kalau lubang anusnya berwarna merah muda.

Kuraba pantatnya yang penuh dengan rambut, sesekali kubelai lubang anusnya.
“Ahh… nikmat… terus. Masukkan Dik jarinya..!” teriak Pak Hans bagai orang keranjingan.
Aku pun menuruti perintahnya, kumasukkan jari telunjukku. Kumasukkan dan kukeluarkan jariku, sampai tidak terasa tinggal ibu jariku yang tertinggal di luar anusnya.
“Tekan yang keras Dik.., ayo.. ohhh.. my god..!” Pak Hans pun sangat menikmatinya.
Tiba-tiba aku ingin mencoba memasukkan batang pistolku ke dalam anusnya. Terus terang, seumur hidup aku belum pernah berhubungan sex dengan perempuan ataupun wanita nakal. Dan pikiranku mulai menerawang jauh memikirkan betapa nikmatnya jika batang pistolku kumasukkan ke dalam lubang anusnya.

“Ayo… Dik Bram, tusuk dengan pistolmu.. please..!” rengek Pak Hans mirip anak kecil.
Kugesek-gesekkan kepala pistolku di sekitar lubang anusnya. Dan.. “Bleesss..!” kepala pistolku lancar dapat masuk ke dalam anusnya.
“Ohhh.. aku merasakan hangat yang luar biasa di batang pistolku. Kudorong lagi pantatku hingga batang pistolku masuk ke dalam sampai tidak tersisa.
“Aughhh.. nikmat sekali…” baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Kurasakan ada semacam cincin melingkar kuat di batang pistolku, sesekali kurasakan sedotan dari dalam anusnya. Aku semakin menikmatinya, kemudian kuayunkan pantatku maju mundur, kutusuk anus Pak Hans dengan batang pistolku.

Tangan kananku memegang dan mengocok batang pistol Pak Hans yang semakin keras bersamaan dengan ayunan pantatku. Tangan kiriku meremas-remas kantung zakarnya.
“Terusss… sodok… tarik.. sodok… ahhh…” kudengar teriakan Pak Hans saking nikmatnya.
“Aku mau keluar… ahhh.. croott.. crottt.. glogok..” kusemprotkan spermaku yang tidak dapat terbendung ke dalam anus Pak Hans.
“Aahhh… nikmat..! Betapa hangatnya spermamu… aku menikmatinya Dik Bram.”
Dan aku pun terkulai lemas menindih tubuh Pak Hans. Aku bangkit dan mencabut batang pistolku dari dalam anusnya. Dan aku duduk terkulai lemas karena puas.

Pak Hans mulai berdiri di hadapanku, disodorkannya kemaluannya ke arah wajahku. Aku meraihnya, kumasukkan pistolnya ke mulutku. Kujilati permukaan pentolan pistolnya yang begitu besar. Ah… andai saja ini bukan pentolan Pak Hans, mungkin sudah kukunyah karena gemas. Kupegang batang pistolnya dan sesekali kuremas kantung zakarnya, betapa lembutnya.
“Terusss.. Dik..! Enak.. ahhh..” Pak Hans pun mulai menggeliat karena keenakan.
Digoyangkannya pantatnya maju mundur, dan aku mulai kelabakan, karena tenggorokanku sakit tersodok batang penisnya yang besar dan panjang.

“Ahhh.. nikmat… aughhh.. aku mau keluar Dik… Jangan dilepas.. please… ohhh…”
Aku pun menuruti perintahnya, kurasakan kemaluannya mulai berdenyut.
“Aahhh.. croottt.. croottt… glogok..!”
Kurasakan semburan lahar Pak Hans yang hangat memasuki kerongkonganku. Kurasakan hangatnya lahar Pak Hans, asin, gurih, sedikit amis tapi aku menyukainya hingga kutelan habis. Kami pun berpelukan terkulai lemas.

Kami mulai membersihkan badan kami dan masing-masing menyabuni tubuh lawan kami, terutama aku senang menyabuni burungnya yang terkulai. Setelah selesai mandi, Pak Hans tiba-tiba membopongku. Dibopongnya aku bagai anak kecil menuju ruang tidur, digeletakkannya tubuhku di atas spring bed. Wow..! Baru kali ini aku merasakan kasur yang begitu empuk. Pak Hans kemudian menghanduki tubuhku yang masih basah, diusapnya seluruh permukaan tubuhku dengan kasih sayang. Sesekali Pak Hans mengusap-usapkan handuk ke pistolku, dan inilah yang membuat gairahku bangkit kembali.

Kurasakan batang pistolku mulai membengkak. Pak Hans memandangku dengan tersenyum.
“Mau lagi, Dik Bram..?” kata Pak Hans.
“Lagi..? Siapa takut..!” pikirku.
Dan aku pun mengangguk memberi tanda mengiyakan tawarannya. Kuraih pistol Pak Hans yang masih lembek, dan kuremas buah zakarnya. Dia mulai menikmati kembali, kulirik pistolnya ternyata sudah mulai membengkak. Kukocok batang pistolnya dengan lembut, dan Pak Hans mulai menindihku dan segera menggenjot senjatanya di antara kedua belah pahaku, aku pun sangat menikmatinya.

“Ohhh… nikmat sekali.”
Kurasakan bulu-bulu dadanya yang lebat menggesek dadaku. Dilumatnya bibirku hingga aku susah bernafas, tapi aku masih dapat menikmati ciumannya yang hangat. Ahh… betapa indahnya dunia ini… bibir Pak Hans mulai turun ke leherku, puting susuku, dadaku, perutku, dan akhirnya mendarat ke batang kemaluanku. Dihisapnya batang pistolku dengan mulutnya, kurasakan sapuan lidahnya mengenai pentolan pistolku.
“Ahhh.. enak… diapain sich Pak Hans..? Nikmat sekali.. terusss..!” aku pun kelojotan merasakan nikmatnya sedotan Pak Hans.

Kujambak rambutnya yang tebal, kutarik kepalanya hingga pistolku masuk lebih dalam ke kerongkongannya.
“Ahh… terusss.. nikmat… aku mau keluarrr… aku mau keluarrrr Pak Hans… ennakkk..!Aaah… croottt.. croott..!” kusemprotkan spermaku ke dalam kerongkongan Pak Hans, dan Pak Hans pun menikmatinya.
Dikeluarkannya batang pistolku yang mulai melembek dari dalam mulutnya. Dijilatinya pistolku hingga bersih, rupanya Pak Hans memang sangat menyukai spermaku.

Pak Hans mulai merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang ke atas. Kulihat batang pistolnya yang masih tegak sampai melebihi pusarnya.
“Pak Hans juga pingin dikeluarin..?” tanyaku kepadanya.
Dia tersenyum sambil mengusap kepalaku, “Tapi Pakai anus kamu, ya Dik Bram..?” pinta Pak Hans.
Aku agak takut, karena selama ini anusku belum pernah dimasuki benda apapun. Aku pun sedikit ngeri bila membayangkan batang kemaluan Pak Hans memasuki lubang pantatku. Apalagi dengan pentolannya yang berukuran sangat besar. Akhirnya aku pasrah saja. Diludahinya lubang pantatku dengan liurnya, sesekali diratakan oleh lidahnya yang nakal. Aku mulai merasakan sapuan lidahnya.

Bersambung ke bagian 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *