Kenangan Bersama Surya

Categories Sesama Pria
0



Kubuka reslueting celana Surya perlahan sampai tinggal CD-nya dengan tonjolan kejantanannya yang telah menegang. Surya pun langsung melucuti pembungkus tubuhku, sampai akhirnya kami berdua telanjang bulat. Kami berdua langsung mengambil posisi 69, Surya langsung… Sebut saja aku Toni, perasaanku suka terhadap sesama jenis (pria), yaitu sejak aku duduk di bangku SMP. Setiap kali aku melihat temanku yang tampan atau guruku yang muda/tampan, perasaan kelelakianku selalu berdesir, dan aku langsung membayangkan betapa indahnya jika dapat bersenggama denganya.

Sampai aku menginjak dewasa, perasaan tersebut terus bergejolak dan kubawa perasaan tersebut dengan rileks saja, hanya aku takut untuk mengungkapkannya dan menyalurkannya. Jalan keluarnya aku suka melakukan onani di dalam kamarku membayangkan ketampanan dan keperkasaan lawan jenisku tadi.

Sampai suatu ketika aku kuliah di suatu PTS di Jakarta Pusat, sengaja aku ambil kuliah malam agar aku dapat kerja di siang harinya, disamping itu aku akan dapat teman laki-laki yang sudah terbentuk yang mempunyai pandangan luas. Pada saat hari pertama masuk kuliah, sengaja aku datang lebih awal agar mendapat informasi lebih dulu dimana kelasku dan sebagainya. Akan tetapi saat aku sedang membaca informasi mengenai mahasiswa baru, tiba-tiba di sampingku ada sesosok tubuh yang dengan aroma kejantanannya yang khas mengundang kelelakianku bangkit, yang sangat beda selama ini kurasakan.

Setelah kucuri pandangannya dan sedikit melupakan tugas utamaku tadi, dia menghilang dari pandanganku. Dia tidak terlalu tampan seperti lelaki yang pernah kuhayalkan, tapi dia sungguh mempunyai kharisma tersendiri, dengan tinggi badan 170 cm dengan berat yang ideal. Lalu kubuyarkan lamunanku, aku segera menuju kelasku. Tapi apa yang terjadi, desiran kelakianku timbul kembali karena aku melihat dia ada pula di kelasku. Sengaja aku segera mengambil posisi duduk di dekatnya. Tanpa kusadari dia menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan diri.”Surya namaku, namamu..?”
Spontan kusebut, “Toni.”
Lalu dilanjutkan dengan percakapan yang lainnya, sampai akhirnya ditawarilah aku untuk singgah ke tempat kostnya.

Singkat cerita, setelah aku ijin dengan orangtuaku lewat telepon untuk tidak pulang malam ini, aku sudah berada di kostnya Surya. Malam semakin larut, aku segera minta ijin membaringkan tubuhku. Surya hanya mengangguk, karena dia pun rasanya sudah lelah. Surya lalu melucuti pakaian kerjanya dan menggunakan celana pendeknya dengan badan tidak terbungkus. Dengan pandangan itu, kelelakianku langsung berdesir, apalagi melihat dadanya yang bidang dengan ditumbuhi bulu-bulu tipis di dadanya dan daerah pahanya yang ditumbuhi bulu yang hitam dan lebat, serta aroma kelalakiannya yang khas itu.

“Ton.., kok benggong begitu kamu metatapku, kamu suka sama aku ya..? Jangan Ton, nanti ketagihan dan keterusan.”
Aku hanya terdiam.
“Ton.., buka saja bajumu dan celana panjangmu kalau kamu kegerahan, sorry ya aku sudah terbiasa tidur seperti ini.”
Aku segera membuka celana panjangku, untung aku pakai celana pendek.

Surya langsung mematikan lampu kamarnya, dan menggantinya dengan keremangan 5 watt. Dia berbaring di sampingku.
“Ton, kamu sudah punya pacar..?” tanya Surya untuk penghantar tidurku.Langsung kujawab, “Belum, memangnya kenapa, kamu Sur..?” tanyaku balik.”Sudah..” jawabnya.
Hancurlah harapanku, ternyata Surya bukan lelaki yang kubayangkan sebelumnya.

Aku diam sesaat.
Tapi kemudian tangan kanan Surya langsung mendarat di pahaku dan meremasnya dengan perasaan lembut, dan terucap kalimat dari mulut Surya, “Aku sangat rindu dengan kekasihku.”
Aku hanya terdiam sambil merasakan betapa lembut remasannya sampai langsung menegang kejantananku. Tanpa kurasakan Surya telah melumat bibirku dan meremas kejantananku yang sudah menegang.
Aku langsung berkata, “Sur.., jangan..!”
langsung dijawab, “Sudahlah.., aku tau kok perasaanmu dari tadi..”

Aku langsung balas lumatan bibirnya Surya, tanganku segera mengelus dadanya yang bidang dan berbulu halus. Semakin berani saja Surya setelah mendapat sambutanku. Lumatan bibirnya terus menelusuri leherku, kupingku tidak sejengkal pun yang terlewatkan, sampai akhirnya dia telah menelanjangiku. Puting susuku sesekali dihisap dan digigit, sampai aku mengelinjang.
“Sur, terus Sur.., terus-terus, enak ach.. ach.. ach..” desahku.
Dengan tangannya mengelus batang kemaluanku sampai lubang duburku, rasanya aku melayang ke udara menahan rasa enak.

Akhirnya lumatan bibirnya sampai pula ke selangkanganku, dan Surya mulai memainkan bibirnya dengan melumat dan menyedot batang penisku serasa makan ice cream. Sesekali ujung helmku dipelintir dengan lidahnya.
“Sur, aku tak tahan Sur..!”
“Bles..!” masuk sudah seluruh batang kemaluanku ke dalam mulut Surya.
Dengan gerakan turun naik, hisapan mulut Surya terus mengocok-ngocok batangku tanpa mengalami hambatan. Memang batang kemaluanku tidak terlalu panjang dan besar (dengan ukuran standar kebanyakan orang punya). Selain menghisap, jari tangan telunjuknya telah masuk pula ke duburku.

Rasa nikmat atas permainan hisapan Surya tidak dapat diceritakan.
“Surya.., Surya..,” desahku, “Aku tak tahan Sur..!”
Semakin mengeras saja batang kemaluanku ini dan berdenyut, “Sur, Sur..” desahku, “Creet, creeet, creet..!” Aku tidak kuasa menahannya dan cairan kental berwarna putih pun keluar dan dibersihkan oleh lidahnya Surya bak menghabiskan sisa-sisa makanan yang disukainya dan ditelannya pula.

Setelah seluruh persendianku mengendur, tanpa merasa ego aku kasihan kepada Surya yang telah menservice aku barusan. Dengan bermodalkan khayalanku selama ini dan video-video gay yang pernah kutonton, aku langsung merangsang ketiak Surya dan kugigit serta jilat. Khas aroma kelelakiannya semakin membuatku bergairah saja. Kugigit pula puting susunya serta kuhisap-hisap bak si kecil sedang menenen pada ibunya.
“Ton terus, Ton terus, enak Ton..!” terdengar pinta Surya mengerang keenakan.
“Ach-ach.., ach tank’s Ton.” desahnya kembali sambil memainkan batang kemaluanku yang mulai menegang kembali.

Tanpa pikir panjang kuambil posisi 69. Ternyata dalam keremangan 5 watt aku dikejutkan dengan pemandangan Surya yang juga telah telanjang bulat. Pemandangan yang indah yang baru pertama kulihat langsung, batang kemaluan Surya sungguh dahsyat dengan panjang kurang lebih 20 cm yang dikelilingi bulu hitam yang lebat, sampai buah kejantanannya ditumbuhi pula. Langsung saja kejantanannya Surya kulumat, tidak sanggup kerongkonganku menampung besarnya dan panjangnya penis Surya, tapi kunikmati dengan permainan lidahku.

“Terus Ton, terus Ton..!”
Pantat Surya menekan kepalaku, dengan sesekali kutelan sampai habis buah kemaluannya dan kulumati bagaikan mengulum permen kojek. Dan terus kuhisap turun naik sambil kukocok perlahan batang yang panjang itu.
“Ach, ach… ach..!” terdengar desiran dari mulut Surya menahan nikmatnya hisapanku, dan akhirnya semakin membengkak dan mengeras batang kemaluan Surya.
Dan, “Creet.., cret.., creeet..!” cairan hangat tumpah di mulutku sampai aku tidak dapat bernapas dan banyak tertelan, karena Surya menahan kepalaku dengan jepitan pahanya.
“Sungguh luar biasa Ton permainanmu..!” akhirnya kami pun kelelahan sampai tertidur.

Aku terkejut terbangun, aku berpikir dimana aku. Kulihat diriku masih telanjang bulat, Surya hanya tersenyum melihatku. Setelah aku mandi dan bersih-bersih sudah tersedia kopi susu hangat yang disediakan oleh Surya.
“Ton jujur saja ya, kamu sering melakukan seperi semalam..?” tanyanya.
Spontan kujawab, “Itu.. pertama yang kulakukan.”
Rasanya Surya tidak percaya. Cerita punya cerita ternyata Surya pun baru pertama melakukannya, hanya dengan berbekal pengalaman melihat video CD porno. Surya pun mempunyai perasaan yang sama denganku, hanya Surya masih mempuyai rasa nafsu pula terhadap lawan jenisnya (wanita), dan dia menganjurkan aku supaya sedikit-sedikit suka pula terhadap wanita.

Semenjak kejadian itu, aku semakin akrab dengan Surya. Kami bagaikan adik dan kakak serta bagaikan suami dan istri kalau ada kesempatan untuk ber-ML. Dan aku pun dikenalkan dengan calon istrinya, tidak ada seorang pun yang tahu mengenai hubungan kami kecuali aku dan Surya. Dan aku tidak pernah melewati jika ada kesempatan untuk bercumbu bagaikan suami istri.

Tiga tahun sudah aku berhubungan dengan Surya, dia sangat perhatian dan sayang kepadaku, tapi dia juga mencintai calon istrinya. Calon istrinya Surya pun tidak pernah curiga terhadapku, karena aku dan Surya sangat pandai menyimpan rahasia itu. Pada suatu ketika, aku diajak week-end ke Bandung, aku menginap di sebuah hotel.
“Ton..” Surya membuka pembicaraan, “Sengaja kamu aku ajak kesini karena ada yang ingin kusampaikan..,”
Kupotong ucapan Surya, “Mengenai apa Sur..?”
“Ton, aku harap kamu dapat mengerti perasaanku..” aku pun pasti mengerti perasaanmu.
“Sorry.. Ton, bulan depan aku akan menikah dengan Euis pacarku itu.”
Bagai petir menyambar ke telingaku di siang bolong, aku hanya terdiam dan sedih. Surya langsung memelukku.
“Ton.., kamu tak usah kuatir, kamu tetap teman specialku, ingat kesepakatan kita dulu dan pesanku, kamu juga harus mempunyai keluarga.”
Tanpa buang waktu kudekap tubuh Surya, “Aku sangat mencintaimu, kamu terlalu baik buatku.”
Kujilati lehernya, kulumat bibirnya, kuremas-remas bagian celana yang mengandung dan menyembunyikan kemaluan Surya. Surya pun akhirnya menerima rangsanganku.

Kubuka reslueting celana Surya perlahan sampai tinggal CD-nya dengan tonjolan kejantanannya yang telah menegang. Surya pun langsung melucuti pembungkus tubuhku, sampai akhirnya kami berdua telanjang bulat. Kami berdua langsung mengambil posisi 69, Surya langsung mengulum dan melahap batang penisku dan dihisapnya dengan penuh perasaan. Sesekali buah kemaluanku dikulumnya.
“Sur.., nikmat SUR..!” desahku, “Enak Sur.., terus Sur, terus.., terus..! Ach, ach.. ach..”

Tiba-tiba saat aku sedang menikmati kuluman mulutnya Surya, Surya menghentikannya dan langsung bangkit berdiri. Kulihat batang kemaluannya yang panjang dan besar itu menegang keras, langsung aku tidak sia-siakan dan kusambar. Kulumat dan kuhisap dengan penuh perasaan dengan ayunan mulutku. Surya pun mengerang, “Ach.., ach.., ach.., enak Ton..!”
Ditariknya batang kejantanannya, dan Surya berkata padaku, “Ton, kamu mau tidak kumasuki duburmu..?”
“Tapi Sur.., kan sakit..!”
“Ya kita lakukan pelan-pelan, nanti gantian.”
“Ton, aku pun belum pernah melakukan itu percayalah, bagaimana kalau kita coba sekarang..?”

Dengan bernafsu dikangkanginya kakiku, dielus-elus duburku dengan lotion yang ternyata telah disiapkan oleh Surya. Dengan merasakan nikmatnya permainan tangan Surya ke duburku, sampai tidak sadar aku kalau batang kejantanan Surya yang besar dan panjang itu mulai diarahkan perlahan ke duburku.
“Sur.., sakit Sur..!”
“Tahan sedikit Ton.”
Surya menghentikannya sejenak, dan aku pun mengambil napas panjang. Dan diarahkan kembali batang kemaluannya Surya ke duburku, dan dengan perlahan-lahan.

“Tahan dikit Ton, tahan Ton..!”
Aku menahannya dan, “Bless..!” masuk sudah kepala kemaluan Surya beserta batangnya. Dihentikan sejenak, lalu Surya mulai mengoyangnya maju mundur. Walaupun awalnya sakit, tapi Surya terus memaju-mundurkan batang kemaluannya yang panjang, terkadang masuk keseluruhan, terkadang setengah.
“Sur, Sur, Sur.., enak, ach ach ach..!”
Sungguh luar biasa gesekannya, dua kali lipat enaknya dari dihisap.

Akhirnya Surya merintih menahan nikmat, terdengar desisannya, “Ach, ach.., ach, enak Ton.”
Kurasakan batang kemaluan Surya semakin besar dan mulai berdenyut, semakin cepat pula Surya memaju-mundurkan kejantanannya itu.
Dan, “Ton, aku tak tahan Ton..!” rintih Surya.
Kurasakan semburan cairan hangat telah membanjiri duburku. Surya terkulai lemas ditahannya penisnya di dalam duburku.

Setelah istirahat sejenak, kuambil posisi gantian, sekarang aku yang memerawani dubur Surya. Karena batang kemaluanku tidak terlalu besar dan panjang, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk masuk ke dubur Surya. Ternyata memang sungguh nikmat, memasuki dubur perawannya Surya.
Aku pun langsung mengerang, “Ach.., ach.., ach..!”
Kumaju-mundurkan batang kemaluanku. Surya pun merintih menahan nikmat. Kugoyang terus sampai akhirnya muncrat sudah larva maniku membasahi dubur Surya. Kami pun terkulai lemas dan tertidur.

Akhir hari yang kutakutkan tiba pula disaat pernikahan Surya dan Euis. Walaupun aku sangat terpukul, tapi bagaimanapun Surya terlalu baik untukku, dia tidak perhitungan dalam segala hal, terlebih-lebih soal materi. Biarlah dia bahagia bersama istri yang dicintainya. Hanya yang tidak kulupa pesan dari Surya yaitu, aku pun harus menikah nanti. Semenjak itu perlahan-lahan aku dan Surya jarang bertemu, kalaupun bertemu sebulan sekali, itupun belum pasti dan selalu kumanfaatkan untuk ber-ML.

Aku pun setahun kemudian menikah dengan wanita yang kucintai, dan kukabarkan Surya jauh-jauh hari. Betapa gembiranya dia mendengar kabar itu. Surya segera menghubungiku untuk berkenalan dengan calon istriku, dan dia pinjam kepada calon istriku untuk mengajakku ke luar kota. Dan aku pun pergi bersama Surya ke Bandung tempat dimana aku dan Surya saling merawani dubur masing-masing, dan ternyata disitu aku melakukan ber-ML untuk yang terakhir kali.

Saat kami berpisah, Surya mengatakan bahwa dia tidak dapat hadir dalam pernikahanku karena dia harus tugas dinas ke Malaysia, aku pun mengerti. Dia hanya titip bungkusan ini untuk modalku nanti, tapi dengan syarat harus dibuka di rumah. Setelah kubuka di rumah, ternyata sejumlah uang yang tidak ternilai harganya, dengan pesan terakhir, “INI UNTUK MODAL KALIAN BERDUA-SEMOGA BAHAGIA.”
Sungguh terlalu baik memang Surya untukku, dia tahu bahwa aku berani menikah disaat aku belum mendapatkan pekerjaan tetap. Semoga Surya (bukan nama aslinya) di Malaysia membaca situs ini, aku sangat rindu padanya. Mungkinkah ada Surya-Surya lainnya yang mengerti perasaanku?

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *