Kenanganku Bersama Jimmy 02

Categories Sesama Pria
0



Sambungan dari bagian 01

Sementara ia mandi, kusiapkan gunting, krim bercukur dan pisau cukur yang tajam yang kubeli semalam serta sebuah kamera. Semuanya kusembunyikan di bawah majalah.
Tidak lama kemudian, ia sudah selesai mandi dan keramas, kemudian ia kuajak ngobrol-ngobrol sampai rambutnya kering dan kemudian kukatakan padanya, “Karena kamu dulu melakukan perbuatan yang sangat berlebihan dan tidak senonoh padaku, maka hari ini kamu akan kuhukum. Jangan khawatir aku tidak akan menghukum secara fisik.”
Kulihat wajahnya sedikit tegang, lalu kuteruskan, “Kamu harus menerima hukuman dengan bentuk yang lain.” Wajahnya semakin tegang dan memucat.
“Kamu harus bersedia kehilangan rambut di kepalamu dan juga jembutmu (pubic hair), kalo kamu tidak mau, terpaksa aku…” sengaja kuputus kata-kataku.
Sahut Jimmy, “Maksud Mas rambutku ini harus dipotong pendek dan jembutku harus dicukur..?”
Dengan mantap kujawab, “Ya. Rambutmu itu akan kupotong habis, bukan hanya dipotong pendek.”
“Jangan Mas…” pinta Jimmy, “Setiap dua minggu sekali aku creambath dan aku belum pernah potong pendek, apalagi plontos. Dari dulu temen-temenku senang dengan gaya rambutku, mereka bilang aku sangat cocok dengan gaya itu dan mirip Jimmy lin, saya pun berhati-hati untuk sekedar merapikan rambut saya ini di salon, apalagi potong plontos, please jangan lalukan itu Mas, bagaimana wajahku nanti..?” katanya sambil memegang rambutnya.

Kemudian Jimmy diam beberapa saat, lalu dengan sedikit keras kukatakan, “Itu resiko perbuatanmu, atau…”
Sebelum kulanjutkan kalimatku, tidak lama kemudian ia mengangguk dengan lemah. Segera kuminta ia duduk dan melepaskan pakaiannya. Lalu ia kufoto dengan berbagai posisi dengan rambutnya yang tersisir rapih. Ia agak keberatan ketika kufoto, namun begitu kuingatkan janjinya, ia dengan enggan bersedia. Setelah itu, kusisir rambutnya, kupegang, kurasakan betapa bagusnya rambutnya, sangat terawat, lalu kuusap dan kubelai, kucium rambutnya, harum. Tanganku sibuk menari-nari di rambutnya yang agak lemas dan hitam serta tebal itu. Sungguh pintar ia merawat rambutnya. Merangsang libidoku. Seketika itu juga burungku mulai agak menegang. Aku memang benar-benar hair fethish namun hanya pada orang yang tampan dan imut-imut saja.

Segera kuambil sisir, lalu kuambil sebagian rambutnya di sebelah sisi kiri dan dengan kujepit di jari tanganku yang kupepetkan ke kulit kepalanya dan kupermainkan rambutnya lalu kresss, rambut Jimmy mulai kugunting dan jatuh ke lantai. Terlihat jelas kulit kepalanya yang putih bersih dan aku semakin terangsang. Kemudian kuambil bagian rambutnya di dekat bagian yang telah kugunting tadi, dan kresss, lalu kuambil guntingan rambut itu dan kutaruh di pangkuannya. Ia memandanginya dan wajahnya kelihatan sekali kalau sedih. selanjutnya kress, kress dan kress. Kini bagian samping kiri rambutnya dari belahan rambut (dia menyisir rambutnya dengan belahan kiri ke kanan) ke bawah sudah pendek sekali, mungkin sekitar dua centi meter saja dan kulit kepalanya makin terlihat jelas. Lalu kuambil foto dan segera kujepret moment itu. Kulihat di cermin wajah Jimmy memerah.

Hal yang sama kulakukan pada sisi kanan, namun tidak dengan kujepit di tangan, tapi langsung dengan sisir, kupepetkan sisir itu di kulit kepala dan segera bunyi kress kembali terdengar. Guntingan ini lebih pendek dan mungkin hanya tinggal setengah centi meter saja panjang rambut yang tersisa. Ia memandangiku di cermin, seolah-olah berharap aku tidak akan melanjutkannya.

Setelah selesai bagian samping kanan, lalu kembali kujepret. Lalu bagian demi bagian kugunting sampai rambut bagian belakangnya habis, kini hanya bagian atas dan bagian mahkota. Kali ini kujepret lagi Jimmy dari posisi depan, samping kanan dan samping kiri, wajahnya terlihat sedih namun tetap tampan dengan rambut sependek itu. Setelah selesai memotret Jimmy, aku ambil sisir dan kuangkat rambut Jimmy bagian mahkota, kumainkan lagi rambutnya, kurasakan rambutnya yang tidak agak lemas itu. Setelah itu kutarik sedikit sampai kulit kepalanya terangkat sedikit dan kress, kupotong rambut itu sampai nyaris mengenai ke kulit kepalanya. Botak segera terlihat di kepala Jimmy dan Jimmy sedikit terhenyak, matanyanya memerah. Kuambil lagi kameraku dan kujepret.

Kuteruskan cara ini sampai rambut Jimmy bagian atas benar-benar botak dan dengan guntingan yang tidak rata. Lalu kujepret lagi. Kini aku meneruskan mengguntinginya tanpa sisir ke seluruh rambut Jimmy yang tersisa, sehingga hasilnya benar-benar buruk dan botak. Sementara aku menggunduli Jimmy, burungku tegang sekali dan hampir saja aku tidak kuat menahan untuk tidak kukocok. Setelah selesai dengan gunting, lalu kujepret lagi Jimmy dari tiga sudut, depan, samping kanan, dan tiga perempat kiri. Kelihatan sekali Edi alias Jimmy menahan tangis, matanya memerah dan berkaca-kaca. Ia kelihatan murung sekali. Mungkin ia memang belum pernah potong crew cut apalagi digunduli. Namun aku tidak peduli karena ini memang rencanaku dari semula.

Kini segera kuambil krim pencukur, lalu kuoleskan ke kepala Jimmy.
Kukatakan, “Jangan bergerak sedikit pun, pisau ini sangat tajam. Aku tidak tanggung jika Kamu terluka bila bergerak-gerak.”
Ia mengangguk dan segera kuambil kameraku dan kujepret lagi sampai akhirnya pisau itu kugunakan di kulit kepalanya, hati-hati sekali aku melakukannya, mulai dari bagian atas, sedikit demi sedikit, dan akhirnya bagian samping kiri dan kanan. Setelah selesai, baru bagian belakang kukerjakan. Lebih dari 25 menit kuhabiskan untuk membuat kulit kepala Edi kelihatan licin, smooth, dan putih bersih. Lalu kucium kepala Jimmy. Kepalanya benar-benar licin seperti Kojak (film seri tv). Segara kujepret lagi sampai 4 kali jepretan dari berbagai sudut.

Ritual pertama telah selesai, lalu kumulai ritual kedua, kuminta ia mencopot celananya, celana dalamnya yang putih ketat terlihat dan burungnya yang tidak begitu besar tersembul dari celana dalamnya itu.
Tiba-tiba ia berkata, “Aku tidak mau difoto pada saat aku telanjang.”
Karena kasihan, aku setuju. Kusuruh ia tiduran di kasur dan aku mulai melumuri bulu kemaluannya yang jarang itu dengan krim pencukur tadi dan segera kucukur dengan alat cukur jenggotku. Tidak lama kemudian, terlihat bersih dan Jimmy tergolek tanpa busana selembar pun dan polos. Tanpa sehelai rambut pun sehingga nampak ia seperti bayi. Imur-imut sekali. Nafsuku bergelora kembali.

Kini ritual kedua telah selesai, kukatakan, “Nah, sekarang hukuman untukmu telah selesai, kalo kamu mau mandi silakan, tapi aku ingin mandi dulu.”
Sambil berkata demikian, kusimpan kameraku dan alt-alat cukurku ke dalam lemari, lau kusuruh Edi keluar. Aku takut ia mengambil kamera itu dan juga pisau cukurnya, “Jangan-jangan nanti ia menusukku.” kataku dalam hati.
Setelah Edi alias Jimmy masuk ke kamarnya, aku segera ke kamar mandi. Sedang asyik-asyiknya membersihkan badan dengan menggosok badanku pakai sabun, tanpa kuketahui, Jimmy sudah di belakangku. Ia mendekamku dan mendorongku ke tembok kamar mandi (pintu kamar mandi tidak ada gerendelnya dan juga tidak bisa dikunci dari dalam, sehingga ketika Jimmy membuka pintu, aku tidak tahu karena membelakangi pintu dan aku yakin ia membukanya dengan sangat hati-hati, sebab tidak kudengar suara pintu dibuka), belum sadar apa yang dilakukannya, dan ketika aku hendak membuka mulut, tangan Edi alias Jimmy sudah memegang mulutku.

Tidak lama kemudian, ia melepaskannya dan dengan bernafsu, bibirku diciumnya. Aku terhenyak kaget apalagi ia sangat bernafsu. Kurasakan bibirnya yang merah dan tipis, lembut, namun pada awalnya aku merasa agak aneh juga dicium cowok. Kemudian lidahnya dengan nakal menyapu mulutku. Aku kegelian, namun terus terang rasanya enak sekali. Segera aku hentikan sikapku yang rada munafik (dengan pura-pura marah, serti pada cerita awal), aku pun bersikap aktif. Tidak lama kemudian, kami saling berciuman dengan sangat bernafsu, Jimmy benar-benar pandai mempermainkan suasana. Ketika burungku sudah mengeras, dia mundur, lalu mengeringkan badanya dengan handuk (ia basah terkena air dari shower).
Setelah selesai, kemudian ia memberikan handukku itu dan memintaku mengeringkannya, “Ayo kita kekamarku..!” katanya.
Seperti kerbau dicocok hidungnya, aku menurut saja.

Di tempat tidur Jimmy, aku merebahkan badanku. Permainan berlanjut, ia memegang burungku dan mulai menjilati bagian kepalanya.
“Ach… Jimmy… enak..!”
Terus ia menjilati dan menyedot sampai hampir semua masuk ke dalam mulutnya. Dengan irama yang teratur, mulutnya turun naik perlahan. Rasa nikmat yang luar biasa segera menerpaku lagi. Kemudian permainan dilanjutkan di daerah atas lagi, dada, perut, leher, wajah dan bibirku. Suhu tubuhnya meningkat pesat, begitu hangat pertanda dia sudah mulai on. Bibir ketemu bibir, kulumat habis bibirnya, lidah kami saling bertemu, aku pun kegelian.

Kemudian kami berganti posisi, aku melihat batang kemaluannya begitu kokoh seperti soko guru. Aku segera pegang dan kukocok terus dengan gerakan maju mundur, membuat dia mengerinjang keenakan.
“Mas Ferry… Enaaak… sekali…” katanya.
Lalu kumasukkan burungnya ke mulutku dan kuhisap dan kukulum sambil kumainkan lidahku di pucuk kemaluannya. Kuputar lidahku ,lalu kujilati lubang kencingnya. Terlhat ia menikmatinya. Tubuhnya bergetar, ketika ia bilang mau keluar, segera kulepas dan ganti ia kembali yang berperan aktif, kembali burungku dilumatnya dan dimainkan di mulutnya. Aku tidak tahan dan akhirnya lava yang terbendung meledak sudah, begitu hangat spermaku mengalir di mulutnya, sebagian ditelannya. Lalu ia menjilati sisanya, sepertinya sudah profesional sekali.

Tiba-tiba ia menggeretku. Kakiku ditumpangkanya di pundaknya sementara aku masih berbaring, lalu dia membasahi jari tangannya dan hendak dimasukkan ke dalam anusku. Kucegah dia.
“Jangan Jimmy, aku belum pernah sampai ke tahap itu.”
Tanpa peduli dengan kataku, jarinya dimasukkan ke dalam anusku, yang belum pernah disodomi sekalipun.
“Aduh, Jimmy, sakiit…”
Ia lalu menyahut, “Diamlah… entar juga hilang.”
Kemudian Jimmy membuat gerakan maju mundur dan rasa sakit itu hilang menjadi nikmat. Belum sempat aku menikmatinya, ia memasukkan dua jarinya. Kembali rasa sakit menerpaku. Ia melepaskannya sampai ototku kendur, kemudiaan memasukankannya lagi dan membuat gerakan maju mundur seperti tadi. Lalu ia memompanya berulang kali dan akhirnya aku pun bisa menikmatinya. Tanganku yang bebas berpegangan pada sisi spring bed-ku.

Tidak lama kemudian, Jimmy memegang pantatku dan mengangkatnya sedikit dan pelan-pelan burungnya dimasukkan ke dalam anusku, aku berteriak sakit.
“Aduh, aduh… jangan Jimmy.., aku nggak tahan, sakiiit…”
Ia berhenti, katanya, “Diem, nanti juga terasa enak, tahanlah…”
Lalu ia memasukkan kembali burungnya ke anusku, lalu dengan pelan-pelan ia memompanya. Berulang kali sampai akhirnya aku bisa menikmatinya.
Setelah berjalan cukup lama, Jimmy berteriak, “Aaachh.., Aaachhh…” dan kurasakan spermanya menyembur ke dalam lubang pantatku. Hangat rasanya.
Kemudian kami terengah-engah dan saling berpandangan, lalu kami membersihkan badan dan kemudian tidur sampai pukul 8:00 malam (ingat, aku menggundulinya pukul 3:00 siang lebih sedikit dan selesai hampir pukul empat sore).Setelah bangun, kulihat Jimmy masih tergolek seperti bayi, bayi yang tampan, lalu aku pun memotretnya, lalu kusembunyikan lagi kameraku. Kemudian kubangunkan dia dan kutanyakan.
“Aku yakin kamu sudah biasa melakukan ini, kamu kelihatan sudah sangat lihai dan profesional.”
Ia menyeringai dan keluar pengakuannya, “Sejak setahun yang lalu, ketika aku kelas tiga SMA, seorang temanku, Robby, sering mengajakku dolan bareng. Ia sangat tampan, anak orang kaya namun kurang perhatian. Kami sering mengerjakan PR bersama dan karena rumahku jauh akau sering menginap. Pada saat itulah kami menonton film porno dan kemudian kami berciuman dan selanjutnya seperti yang kita lakukan tadi.”

Setelah mengambil nafas sebentar, Jimmy melanjutkan keterangannya, “Awalnya aku merasa aneh dan takut, namun kemudian aku merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya. Aku ketagihan, dan kami pun sering melakukannya. Sayangnya, kakakku mengetahui, karena laporan seorang cewek yang naksir padaku, namun tidak aku tanggapi. Sejak itu, aku dihukum, bahkan aku sempat dipukul kakakku, Lalu keluargaku mengawasiku dengan ketat dan aku tidak boleh bergaul lagi dengan Robby. Aku dipindahkan dari sekolahku. Hatiku merasa sepi sekali, berbagai cara kulakukan untuk menghilangkan bayangan Robby, namun tidak berhasil. Bahkan sampai sekolah di Yogja pun, awalnya aku tidak diijinkan, namun setelah aku berjanji tidak mengulanginya, baru aku diperbolehkan, itu pun pada awalnya aku harus tinggal di rumah tanteku, namun aku tidak mau. Setelah berhasil meyakinkan janjiku, mereka setuju, namun tetap dengan pengawasan tanteku termasuk ibu kost sini.”

“Itulah sebabnya, aku takut sekali kalo Mas Ferry melaporkan pada ibu kost disini, karena aku yakin ia telah diberitahu oleh kakakku nomor telpon dan alamat rumahku di Sidoarjo.”
Kemudian Edi melanjutkan ceritanya, “Saya kost disini, karena saya lihat foto Mas Ferry.”
“Foto..?” tanyaku heran.
“Iya, menurut Ibu kost, foto itu diambil waktu ulang tahun Andi, cucunya.”
Aku pun teringat, waktu itu aku memang membantu Ibu kost memeriahkan ulang tahun cucunya. Jadi benar, memang ada fotoku di album keluarga Ibu kost yang ditaruh di ruang tamu.
“Mas Ferry seperti Robbi orangnya, ganteng, kalem namun bisa tegas. Itulah yang kusuka dari seseorang, dan Saya berharap tidak meleset. Syukurlah Mas Ferry seperti yang Saya inginkan, apalagi masih lugu soal begituan, walau Saya juga membayar mahal dengan kepala botak ini.” katanya sambil megelus-elus kepalanya.
“Ini sungguh pertama kali aku dibotakin.”
Dalam hati, aku berkata, “Brengsek anak ini, sekalipun juga mengiyakannya.”

Setelah saling bercerita dan mengetahui diri masing-masing, hubunganku dengan Jimmy menjadi sangat erat. Sayang, dua tahun kemudian, aku harus meninggalkan Jogya dan ke Jakarta untuk bekerja. Terakhir ketemu 3 bulan yang lalu, itu pun di sebuah hotel di Jogya, karena Edi sekarang tinggal dengan kakaknya. Ia kelihatam lebih kurus namum tetap tampan, rambutnya sudah berubah, agak gondrong, cara berpakainnya pun sudah tidak rapih seperti dulu.

“Kenapa kamu berubah Jim..?” kataku.
“Aku kesepian Mas, Aku sangat kehilangan Mas. Aku tidak menemukan seorang seperti Mas Ferry. Disamping itu, kakakku sangat curiga dengan setiap teman pria yang ke rumahku, walaupun Aku tidak tertarik sama sekali.”
Kutelan ludahku, aku merasa sedih, lalu kami berpelukan lama sekali. Kemudian kami melepaskan kerinduan kami. Esoknya kami pun mengulanginya lagi. Setelah itu, aku pamit dan berjanji untuk mengajaknya ke Jakarta jika telah selesai kuliah, sehingga kami dapat bersama lagi. Setiap kagen dia, kutelpon HP-nya atau kupadangi foto-foto yang kubuat.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *