Lembur 02

Categories Sesama Wanita
0



Sambungan dari bagian 01

“Ohhh… Ahhh… Hhh… Hhh… Ahhh…” Gelinjang tubuh Asti tampak semakin liar dan tak terkendali, sehingga Bu Rina segera melepas jarinya dari kemaluan Asti dan lidahnya dari payudara Asti, karena ia tak ingin Asti terlalu cepat mencapai puncak. Ia menggesekkan jari tengahnya yang dipenuhi lendir panas pada bibir Asti. Asti segera menjilati jari basah Bu Rina, menikmati lendir kewanitaannya sendiri dengan rangsangan yang telah meledak-ledak dalam dirinya. Pemandangan erotis ini membuat tubuh Bu Rina panas-dingin, ia mencabut jarinya dari mulut Asti dan duduk mengangkangi kedua paha Asti hingga rok mininya teratrik sampai ke pangkal paha, lalu menancapkan payudaranya yang besar itu ke mulut Asti yang masih setengah terbuka.

“Ohhh… Terus, Sayang…” desah Bu Rina saat Asti mulai menjilati putingnya yang keras dan mencuat.
“Gigit, Sayang… Oooh… Ah!” pekik nikmat Bu Rina saat Asti mengigit puting besar itu dengan lembut.
Sadar sepenuhnya bahwa ia telah bisa menikmati semua ini, Asti meremas payudara Bu Rina yang sebelah lagi, sementara tangan kirinya diselipkan ke selangkangan atasannya untuk mendapatkan celana dalam yang telah basah kuyup dibanjiri lendir panas gairah. Tanpa menghentikan jilatan, hisapan dan remasannya pada dada Bu Rina, Asti mulai meremas-remas selangkangan basah atasannya ini.

“Hhhh…” Bu Rina mendesah, dan Asti semakin menggila dan menyelipkan jarinya ke balik celana dalam Bu Rina untuk meraba-raba klitorisnya dan memasukkan jarinya ke dalam lubang kemaluannya.”Aahh!” Bu Rina tersentak, “Nikmat, Sayang. Ohhh, pinter kamu, ohhh…” Merasakan gejolak rangsangan yang semakin memuncak, Bu Rina menggoyang pantatnya naik-turun, menancapkan jari Asti sedalam mungkin ke dalam lubang kemaluannya, semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya, “Aaahhh! Aahhh! Sayaaang…” sambil menekan kepala Asti ke dadanya, tubuh Bu Rina tersentak kaku dan Asti merasakan lendir panas tumpah dari kemaluan Bu Rina ke tangannya. Jarinya yang masih di dalam lubang kemaluan Bu Rina merasakan kontraksi berulang kali, seirama dengan mengalirnya lendir orgasme atasannya itu.

“Ohhh…”
Bu Rina mendesah dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Asti.
“Aku cinta sama kamu, As,” katanya dengan lembut.
“Kamu mau jadi pacarku ‘kan, Sayang?”
Asti hanya tersenyum dan mengeluarkan tangannya dari selangkangan atasannya, lalu menghirup bau lendir orgasme kental itu. Asti belum pernah mencium atau merasakan lendir vagina wanita lain, ia merasa baunya menyenangkan dan semakin membangkitkan gairahnya. Dengan bernafsu, Asti menjilati jari dan tangannya.

Mengetahui kekasih barunya ini ingin dipuaskan, Bu Rina melorotkan tubuhnya dan berlutut di lantai. Ia melepas kait rok dan menarik retsleting Asti yang terletak di samping roknya, lalu melorotkan rok sekaligus celana dalam Asti hingga sekretarisnya kini telanjang bulat di atas sofa. Diiringi desah lembut Asti, Bu Rina menjilati lutut sekretarisnya ini dan bergerak ke pahanya. Desah Asti semakin cepat dan nafasnya mulai tersengal-sengal saat lidah Bu Rina mencapai selangkangannya dan mulai menjilati lubang pantatnya. “Ungh…” erang Asti saat tiba-tiba lidah Bu Rina melalap kemaluannya hingga ke klitorisnya. Kenikmatan yang tiba-tiba ia rasakan ini membakar rangsangan dalam dirinya dan Asti tak mampu mengendalikannya lagi. Tak peduli Bu Rina adalah atasannya, Asti menarik kepala Bu Rina dan menghunjamkan selangkangannya dengan bernafsu ke mulut dan lidah Bu Rina yang sibuk menghisap dan menjilati klitoris dan kemaluannya.

Bu Rina mengangkat kedua kaki Asti ke pundaknya hingga kini Asti benar-benar mengangkangi kepalanya. Gerakannya semakin bebas, lidah Bu Rina semakin liar memasuki lubang kemaluan Asti sedalam-dalamnya, sementara mulutnya sepenuhnya menguasai bibir kemaluan dan klitoris Asti. Dengan bernafsu, Bu Rina menghisap klitoris Asti dengan lidah masih menggeletar di dalam lubang kemaluan sekretaris cantik itu. “Ohhh… Sayaang… Nikmat, Sayaang! Rrrhhh…” Asti mengerang penuh kenikmatan sambil mempercepat hunjaman selangkangannya pada mulut Bu Rina.

“Ohh… Ohhh… Ohhh… Sayang! Sayang! Ohhh, Sayaang!” jeritan Asti yang mengiringi hujaman selangkangannya yang semakin cepat membuat Bu Rina tahu, sekretarisnya hampir mencapai puncak kenikmatan. Ia mengeluarkan lidahnya dari lubang kemaluan Asti dan menjilati klitorisnya dengan getaran yang sangat cepat. “Aaahhh… Aaahhh…” jeritan Asti terdengar melengking tak terkendali akibat ulah “vibrator” hidup di selangkangannya ini. Bu Rina lalu meluruskan lidahnya hingga kaku dan menancapkannya kembali sedalam-dalamnya ke lubang kemaluan Asti, lalu wajahnya ia hujamkan maju-mundur hingga Asti lepas kendali dan menjambak rambut Bu Rina lalu menarik kepalanya ke selangkangannya, seirama dengan hujaman lidahnya ke lubang kemaluannya, sementara tubuhnya bergelinjang hebat.

“Ahhh! Ahhh! Nggaak… Nggaak… Aaahhh! Aaakkk…” sambil menjerit liar, Asti menyentak kepala atasannya sedalam-dalamnya ke selangkangannya, sementara Bu Rina melahap seluruh kemaluan Asti di dalam mulutnya dan menghisap lendir orgasme Asti yang muncrat berkali-kali, sambil dengan nakal kembali menggetarkan lidahnya di kelentit Asti. “Ooohhh… Oohhh… Hhhh…” desah Asti semakin pelan dan Bu Rina menghentikan getaran lidahnya, mengetahui orgasme Asti telah melemah. Ia kini hanya menghisap klitoris Asti hingga akhirnya Asti melepas kepala Bu Rina dan bersandar lemas pada sofa.

Bu Rina naik ke sofa dan mencium bibir Asti dengan lembut, tanpa menduga akan mendapat balasan ciuman bergairah dengan hisapan lidah yang bernafsu dari sekretarisnya yang telah mendapatkan kepuasan seksual terhebat sepanjang hidupnya ini. “Kamu masih bisa, As?” tanya Bu Rina, “Soalnya sebenernya aku belum sampai orgasme puncak dan masih mau dijilatin ama kam…”jawaban Asti berupa lidah yang menggerayangi mulut Bu Rina yang belum selesai mengucapkan kalimatnya. “Ohh, nakal kamu,” kata Bu Rina yang segera berdiri melepas rok dan celana dalamnya, lalu naik ke atas sofa dan berdiri mengangkangi wajah Asti.

Belum pernah melakukan ini pada wanita lain, Asti memulai dengan menjilati bibir kemaluan Bu Rina yang telah basah kembali. Ternyata menghisap dan menyetubuhi Asti dengan lidahnya telah merangsangnya kembali, mungkin karena Bu Rina memang belum mencapai orgasme puncak. Jilatan Asti pada bibir kemaluan Bu Rina membuat lendir gairahnya semakin deras mengalir dan menetes-netes ke mulut, pipi dan leher Asti. Lidah Asti lalu mulai berkonsentrasi pada klitoris Bu Rina, membuat Bu Rina mendesah, “Hhhh… Nikmat, Sayang… Ooohhh…”

Desahan itu membuat Asti semakin berani dan mulai memasukkan lidahnya ke dalam lubang kemaluan Bu Rina. “Ahhh!” Bu Rina menjerit kecil, “Terus, Sayang! Ohh, terus… Ooohhh…” Asti berusaha menyetubuhi Bu Rina dengan lidahnya yang ia hunjamkan keluar-masuk lubang kemaluan atasannya ini, namun Bu Rina seakan tak puas dan lebih liar menghujamkan selangkangannya ke wajah Asti.”Ohh… Ohhh… Gigit memekku, Sayang… Gigit…” Asti hanya bisa menurut dan menggigit bibir kemaluan Bu Rina dengan lidah tetap menjilat dengan liar di dalam lubang kemaluannya.”Ahh! Ahhh! Aaaa…” Bu Rina memekik kecil, tampak menikmati gigitan lembut Asti pada kemaluannya. “Itilku, Sayang. Oooh, itilku gatel,” desah Bu Rina sambil mempercepat hujamannya pada mulut Asti dan meremas-remas payudaranya sendiri dengan kasar.

Asti kembali menjilati klitoris Bu Rina sambil menghisap bibir kemaluannya. Ia berusaha menggetarkan lidahnya secepat mungkin seperti yang dilakukan Bu Rina padanya. Usahanya berhasil, getaran lidahnya yang terasa seperti vibrator di klitoris Bu Rina membuat atasannya ini memejamkan mata dan menggigit bibirnya dalam kenikmatan, sementara remasannya di dadanya semakin tampak bernafsu. “Masukin jari kamu ke pantatku, Sayang,” kata Bu Rina dengan napas tersenggal-senggal. Ia lalu memperlebar kakinya agar lebih mengangkang, membuat Asti semakin tertindih dan terpaksa melorotkan badannya di atas sofa. Asti menyelipkan jarinya di antara kedua lembar bibir kemaluan Bu Rina, membasahi jari telunjuknya dengan lendir rangsangan dari lubang kemaluan Bu Rina serta jilatan lidahnya sendiri. Setelah itu ia masukkan jarinya ke lubang pantat Bu Rina yang ternyata membuat Bu Rina menjerit penuh kenikmatan, “Aaakkk… Aaahhh… Sayang…” Asti semakin bernafsu menancapkan jarinya keluar-masuk pantat Bu Rina sampai ke pangkal jarinya, tanpa menghentikan jilatannya pada klitorisnya.

“Aaahhh… Aaahh… Terus… Terus… Jangan berhent… Aaakkk…” pekikan Bu Rina dan gelinjang tubuhnya semakin liar dengan memuncaknya kenikmatan dalam dirinya. Asti menjilati klitorisnya dengan bernafsu dan mempercepat tusukan jarinya pada pantat Bu Rina, hingga akhirnya kedua paha Bu Rina menjepit kepala Asti dengan keras dan tubuhnya tersentak kaku, “Aaahh… Gggaahhh…” Kedua tangan Bu Rina menjambak rambut Asti dan menancapkan wajahnya ke selangkangannya, sementara Asti menghisap lubang kemaluan Bu Rina selagi rentetan lendir orgasme panas menyemprot ke dalam mulutnya. Asti melepas jarinya dari lubang pantat atasannya, tubuh dan paha Bu Rina melemas sesaat, lalu tiba-tiba tersentak kaku kembali seiring dengan menyemprotnya kembali lendir puncak kenikmatan dari kemaluannya. Asti yang melepas hisapannya, mengira Bu Rina telah selesai, tak siap menghadapi ini dan lendir orgasme dari lubang kemaluan Bu Rina membanjiri bibir, pipi dan dagunya, lalu meleleh ke leher dan dadanya.

Dengan berakhirnya puncak orgasmenya, Bu Rina ambruk di atas tubuh Asti dan keduanya lalu rebah di sofa sambil berpelukan erat, seakan besok sudah tak berjumpa lagi.
“Hhh… Hhh… Asti sayang, aku nggak mau kehilangan kamu, Sayang. Aku cinta kamu,” desah Bu Rina di tengah usahanya mengembalikan nafasnya yang tersenggal-senggal itu.
“Aku juga cinta Ibu. Aku nggak nyang…”
“Jangan panggil aku Ibu,” Bu Rina memotong, “Mulai sekarang, kalau kita berduaan aja, kamu panggil aku Sayang atau Rina.”
Asti tersenyum manis dan membelai rambut atasannya ini.
“Aku juga cinta kamu, Sayang. Aku nggak nyangka wanita bisa memuaskan aku lebih dari pria. Aku juga nggak mau kehilangan kenikmatan ini, Sayang. Aku nggak mau kehilangan kamu.”

Bu Rina tersenyum bahagia mendengar jawaban kekasih barunya itu, lalu mencium bibirnya. “Jilatin yang di wajah dan leherku dong, Sayang. Aku masih mau nikmatin lendir kamu,” kata Asti. Bu Rina menjilati lendir panas yang berlepotan di wajah dan dada kekasihnya, namun tidak menelannya. Ia lalu membuka mulutnya di atas mulut Asti yang telah siap menerimanya, lalu mereka sama-sama menikmati lendir manis itu sambil saling menghisap lidah.

Setelah 10 menit berpelukan dan saling meraba tubuh tanpa bicara, pasangan kekasih yang bahagia ini lalu berdiri dan mengenakan pakaian masing-masing. Asti lalu melanjutkan pekerjaannya dengan lengan Bu Rina memeluk pinggangnya sambil sekali-sekali bibirnya mengecup pipi atau telinganya, hingga pekerjaannya selesai. Lalu mereka pun pulang dengan bayangan indah akan masa-masa yang akan mereka nikmati bersama kelak.

TAMAT

0 thoughts on “Lembur 02

  1. Pingback: Lembur 01 | Jablay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *