Sebuah Perjalanan Spiritual 02

Categories Umum
0
Tags



Sambungan dari bagian 01

‘Karier’ Dr.Jarwo sebagai seorang maniak seks berawal dari masa kecilnya. Ketika itu di sungai tempat dia biasa bermain, serombongan wanita yang sedang mandi secara tidak sengaja mempertontonkan ‘bagian rahasia’ mereka ke hadapannya. Kala itu kendati dia hanyalah seorang bocah yang dilingkupi ‘kabut’ kepolosan namun dia mengerti tentang itu. Dia mengerti setiap ‘rahasia’ tanpa perlu penjelasan dengan kata-kata. Dan ketika itu dia hanya bisa menyembunyikan ereksinya di bawah arus sungai.

Bertahun-tahun sesudah itu, setelah mencoba Gang Dolly, Kramat Tunggak, Mangga Besar, bahkan Patpong Bangkok, Kaiserstrasse Frankfurt,dan sederet surga dunia lainnya, dia menyadari bahwa tidak ada tempat yang lebih erotis dari gemercik air sungai ataupun telaga di mana para wanita biasanya mandi. Bukan cipratan airnya, bukan bias mentarinya, bukan gelembung sabunnya, bahkan bukan tubuh-tubuh basah yang bersinar diterpa sinar matahari yang menciptakan sensualitas itu, akan tetapi sifat ketidakacuhan atau malah kepasrahan yang ditunjukan tubuh-tubuh wanita ketika menyatu dengan aliran sungai.

Sikap pasrah yang diperlihatkan kulit-kulit mulus itu terhadap arus sungai yang membelai dan mengalir lancar mengikuti tiap lekukan tubuh mereka itulah yang menciptakan sensualitas yang dahsyat. Begitu nimatnya mereka berselimut air yang digunakan untuk membersihkan bagian-bagian tubuh seperti punggung, pinggang, tengkuk, ketiak, payudara, pangkal paha, lekukan kaki semuanya itu menyebarkan aura erotis yang membius imajinasi dan panca indranya. Dia membayangkan dirinya menjadi seekor ikan agar dapat berenang bebas diantara kaki-kaki mereka kemudian melihat menembus gelembung-gelembung air ke arah kumpulan ‘semak’ berwarna gelap yang menyembul dari antara sepasang paha yang indah.

Pengalaman pertamanya secara realita dengan tubuh wanita seutuhnya benar-benar merupakan perpaduan antara pengalaman jasmani dan rohani (saat itu memang belum disadarinya). Merupakan perpaduan antara bencana dan keriangan. Pengalaman pertamanya itu mengajarkan kepadanya bahwa untuk menjadi seorang maniak seks diperlukan kesabaran dan pengendalian diri yang tinggi. Dr.Jarwo tidak menerima pendapat yang menghakimi para maniak seks sebagai individu-individu yang tidak mampu mengontrol dirinya. Tidak hanya itu saja, Dr.Jarwo melalui pengalaman pertamanya membuktikan bahwa pendapat itu salah. Penantian dan kesabaran merupakan seni yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sexual setiap orang.

Dr.Jarwo ketika itu masih berumur 18 tahun saat bertemu wanita yang memberikan ‘pelajaran seks’ yang pertama kali baginya. Dia bertemu dengannya di sebuah arena pasar malam di kota kecil di Jawa Tengah, tempat dia bersekolah. Di tengah hiruk-pikuk kegembiraan pasar malam itu matanya menangkap sesosok tubuh langsing yang memakai kebaya dan memiliki rambut panjang terurai di punggungnya. Tatapan mata wanita di depannya itu bagaikan sorot mata seekor burung dari dalam sangkar. Menatapnya dengan tajam namun wajah itu memiliki ekspresi lugu dan polos sebagaimana wanita desa kebanyakan. Sejenak si Jarwo muda memandangnya untuk memastikan bahwa gadis itu bukan sedang berjualan dan tatapannya itu bukanlah tatapan mengharap agar dagangannya laku.Gadis itu memberi isyarat dengan matanya mengundang Jarwo agar mengikutinya.

Kemudian Jarwo berjalan mengikuti gadis itu melewati deretan stand dan pedangang, berjalan berkelok-kelok diantara kerumunan orang dengan perasaan penuh harap. Gadis itu baru berhenti ketika sampai di depan sebuah bangunan tua yang bertingkat. Setelah melirik dengan sudut matanya, gadis itu segera menghilang ke dalam bangunan tersebut. Jarwo sejenak tertegun. Sampai saat itu dia telah membiarkan rasa ingin tahu menuntun serta mendorongnya mengikuti langkah sang gadis seolah-olah pengejaran itu tidak akan pernah berhenti. Tetapi kini dia telah sampai di akhir pengejaran itu. Dia telah sampai di akhir rasa penasarannya dan kini saatnya untuk mengambil keputusan dengan nalar serta sedikit perhitungan matematis.

Jarwo muda berdiri di depan pintu masuk sebuah bangunan bertingkat peninggalan Belanda yang dikenal sebagai rumah bordil. Sebagai anak muda berusia belasan yang memiliki hormon menggelegak, Jarwo telah lama memiliki keinginn untuk mencoba dunia orang dewasa itu. Akan tetapi selama ini keberaniannya selalu ciut karena merasa khawatir kalau-kalau apa yang ada di balik tembok tua itu benar-benar diluar kemampuan atau diluar dari segala yang ia bayangkan.

Lama kelamaan Jarwo merasakan orang-orang di sekitarnya turut merasakan perasaan gugupnya itu. Well, rasa malu Jarwo ternyata jauh lebih besar daripada kekhawatirannya. Dengan langkah berat, dia maju dan menghilang di balik pintu masuk bangunan tersebut. Begitu pintu dia lewati, hilang pula segala kekhawatirannya selama ini dan dalam pikirannya telah terbangun suatu perasaan mantap untuk melangkah maju meninggalkan masa kepolosandan ketidaktahuannya selama ini.

Jarwo memasuki ruangan yang penuh dengan asap rokok dan suara tawa cekikikan wanita-wanita genit yang sedang duduk di pangkuan pria-pria setengah mabuk yang duduk dengan sembarangan. Dia meneruskan langkahnya mencari gadis yang tadi menuntunnya ke situ. Dengan tanpa menghiraukan pandangan-pandangan aneh dari pria-pria dewasa dan berumur di sekitarnya serta godaan para wanita penghibur di situ, dia melangkah melewati pintu di sisi lain ruang tersebut. Di depannya kini terhampar tanah terbuka berebentuk persegi yang di sekelilingnya terdapat kamar-kamar. Dia juga dapat melihat lampu-lampu yang redup dan remang terbias dari gorden jendela kamar yang berada di lantai dua.

Jarwo kembali melemparkan pandangannya menyapu setiap sisi bangunan yang terhampar di depannya lalu kembali menemukan tatapan gadis tadi yang menatapnya dari tangga yang berada tepat di depannya. Kembali gadis tersebut memberikan isyarat yang sama lalu menaiki tangga tersebut menuju lantai dua. Tanpa ragu Jarwo mengayunkan langkahnya menyeberangi lapangan terbuka itu. Dia harus menunduk beberapa kali dan menyibakan kain-kain serta pakaian dalam wanita yang tergantung di sepanjang tali-tali jemuran yang banyak bagaikan sarang laba-laba saling melintas dan memotong satu sama lain.

Sesampainya di atas, Jarwo segera menghampiri si gadis yang sudah menanti di depan pintu sebuah kamar. Jarwo muda hendak bersikap ramah dan ingin sekedar berbasa-basi ketika tanpa diduga tangan halus gadis itu menariknya menghilang di balik pintu kamar itu.

Ruang kamar itu cukup pengap karena pakaian-pakaian bekas pakai terlihat menumpuk di berbagai sudut ruangan. Sempat pula tercium aroma khas yang biasanya berasal dari pakaian dalam yang belum dicuci. Semuanya bercampur dengan aroma parfum murahan serta bau obat nyamuk bakar. Suasana yang cukup membuat pernafasan tercekik. Aneh memang namun dalam ruangan dengan kondisi seperti itu, Jarwo menemukan suasana yang lain yang membuatnya betah bahkan menikmati tiap aroma dan bau yang dia cium. Mungkinkan suasana nirwana juga seperti ini? pikirannya mulai dikuasai semua pengandaian yang penuh imajinasi.

Gadis itu menuntunnya ke bagian sebelah kanan dari ruangan itu, memintanya duduk di atas tumpukan koper, lalu sejenak memberesakan timbunan pakaian dari atas ranjang sempit di depannya. Dalam keremangan malam Jarwo manatap gadis itu penuh perhatian. Sepertinya gadis itu seumur dengannya sekitar 18-19th. Dandanannya kelihatan agak menor hingga agak menyamarkan usia mudanya. Gadis itu lumayan manis dengan bentuk tubuh langsing dan agak kurus. tubuh langsing itu memiliki nilai tambah dengan adanya sepasang buah dada yang cukup montok dan besar.

Mata yang menatap tajam saat di pasar malam itu kini berganti ramah dengan segaris senyum bersahabat di wajahnya. Senyuman polos itu tidak dapat disembunyikan oleh polesan make-up tebal dengan kualitas rendah yang dikenakan menutupi wajahnya.

Jarwo sejenak tenggelam mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari sebelum itu. Ketika itu dia berusaha mendapatkan pengalaman petamanya dengan seorang wanita setengah baya pemilik warung yang genit. Saat itu dia telah sampai di detik-detik terakhir untuk berhubungan badan dengan wanita itu ketika ‘bencana’ terjadi. Ketika itu dia telah menyibakan kain kebaya wanita itu dan kemudian duduk di atas tikar diantara kedua kaki wanita yang mengangkang.

Selanjutnya dia memandang ke arah ‘rerimbunan’ gelap yang terletak diantara kedua paha milik wanita itu sambil berharap sesuatu akan ‘membimbingnya’ memasuki ‘rerimbunan’ gelap yang penuh misteri itu. Tapi selama penantiannya itu tidak terjadi apa-apa. Bahkan tatap mata wanita yang telentang di depannya itu tidak memberinya petunjuk sama sekali. Ereksinya yang sudah lama mulai terasa ngilu terkungkung di balik celananya, berontak untuk segera bebas. Selang beberapa saat wanita itu bangkit sambil berteriak marah padanya, “Dasar anak tolol!”
“Kamu tidak tahu harus berbuat apa dengan batang kemaluanmu kecuali kencing!”
“Keluar sana! Pergi masturbasi saja sendiri!” teriak wanita itu dengan wajah merah karena marah.
Saat itu Jarwo bertanya-tanya dalam hatinya, apakah penghinaan yang sama akan terjadi lagi padanya?

Gadis itu kini menyetel lampu minyaknya hingga apinya lebih besar sehingga makin menerangi ruangan kamar tempat mereka berdua. Dia mengambil kain kasur yang kelihatannya bersih terlipat lalu di pasangkannya di atas ranjang kecil itu. Kemudian gadis itu mengulurkan tangan ke arah Jarwo sambil membuka telapak tangannya. Kedua mata gadis itu terlihat penuh pengharapan. Jarwo hampir saja menyambut uluran tangan itu dengan tangannya hendak menggenggam namun terhenti karena sadar bahwa gadis itu meminta bayaran. Alangkah bodohnya diriku, pikir Jarwo. Lalu dengan tangan yang setengah gemetar dia merogoh kantongnya serta membayar gadis itu. Gadis itu menyambut lembaran rupiah dengan senyuman. Dan sambil dia menyimpan uang itu di balik kasur, tangannya yang sebelah terlihat mulai membelai bagian selangkangannya sendiri.

Mendadak ereksi Jarwo yang telah dimulai sejak dia memasuki kamar, menjadi tak tertahan lagi. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan ‘penderitaan’ seperti itu. Si gadis membuka pakaian yang dikenakannya. Begitu BH yang dikenakannya terbuka, sepasang buah dada yang montok dan ranum itu terlihat menantang dengan sepasang puting susu yang telah tegang dan mengeras membuat dadanya terlihat seperti membusung.

Begitu kuatnya desiran hawa nafsu yang dialaminya sehingga Jarwo sempat berpikir kalau tubuhnya akan menguap menjadi embun karena tidak sanggup lagi menahan ‘panas’nya hormon seks perjakanya yang menggelegar. Dengan gerakan yang sangat halus dan ringkas, si gadis kemudian melepaskan kain yang dikenakannya. Jarwo melihat celana dalam si gadis yang tipis hingga samar-samar bagian dalamnya terlihat. Gadis itu tersenyum dan menunjuk ke arah bagian celana jarwo yang menyembul karena ereksi.

Jarwo bangkit setengah melompat karena terkejut merasakan ujung jemari tangan si gadis yang lentik itu menyentuh permukaan ‘gundukannya’. Dia kini berdiri di hadapan si gadis dengan perasaan ‘terbakar’ oleh nafsu dan hasrat. Dipandanginya darah selangkangan si gadis, lalu bagian perutnya, buah dadanya, sepasang pahanya hingga kakinya. Dipandanginya dengan lekat dan penuh perasaan seakan-akan dia sedang berada dalam ketiadaan dan satu-satunya benda yang ada hanyalah tubuh indah milik gadis di depannya itu. Bahkan Jarwo tidak dapat mendengar apa-apa lagi selain detak jantungnya yang berdegup kencang di telinganya.

Kemudian si gadis itu menanggalkan celana dalamnya. Selanjutnya si gadis membungkuk membelakangi Jarwo untuk memungut pakaian yang ditanggalkannya dari lantai. Bagian pantat yang telanjang milik si gadis terpampang dengan jelas dengan dua bukit yang padat bagaikan altar persembahan buat para dewa. Jarwo menundukan kepalanya berusaha melihat lebih jelas lagi. Seketika itu juga bagian anus si gadis terlihat dengan jelas, dan dengan perasaan takjub, Jarwo bisa menatap langsung bibir kemaluan yang membentuk gundukan indah itu secara nyata dan jelas.

Sekejap Jarwo merasakan jantungnya berhenti berdetak dan seluruh pembuluh darah di tubuhnya berhenti mengalirkan darah. Dia merasakan seluruh organ tubuhnya seperti ingin menerjang keluar menembus kulitnya. Si gadis sedang membungkuk untuk mengambil pakaian yang dia tanggalkan kemudian melipat serta meletakkannya di atas tumpukan pakaian tadi. Si gadis kemudian berbalik ke arahnya, mulai menyentuh bagian reitsleting celana Jarwo. Jemari lentik itu sejenak mengelus bagian yang ‘membukit’ di celana Jarwo lalu mulai melepas kancing, membuka ritsleting dan menurunkan celana Jarwo hingga lutut. Lalu dia menyusupkan tangannya ke dalam celana dalam Jarwo kemudian menarik keluar batang kemaluan perjaka yang sudah didera ereksi itu.

Kemudian itu si gadis mulai membelai dan mengelus kejantanan mulai dari bagian buah pelir hingga ke ujung ‘kanopi’nya. Saat itu tidak ada lagi Jarwo Suratmo, yang ada hanyalah semburan panjang yang cepat dari sperma kental seorang perjaka yang menyemprot membelah udara penat di kamar itu, semburan yang mendarat tepat diantara dua bukit payudara dan langsung meleleh mengalir mambasahi perut dan terus turun mengikuti lekuk tubuh si gadis.

Gadis itu tersenyum sambil menggenggam batang kemaluan Jarwo bagai seorang tukang kebun menggenggam alat penyemprot tanaman. Ketika cipratan sperma mengenai dadanya tadi, dia hanya berkedip dan memandang Jarwo dengan penuh simpati. Ketika Jarwo telah selesai mengeluarkan isi ‘senjata’nya, si gadis mengambil kainnya lalu digunakan untuk membersihkan sperma yang masih tersisa pada batang kemaluan Jarwo. Kemudian dia memandang Jarwo seperti meminta kepastian apakah Jarwo masih ingin meneruskan ‘permainan’ yang telah dia bayar di depan itu.

Jarwo masih setengah ‘melayang’ akibat ejakulasi yang mendadak tadi. Dengan lemas dia kembali memasukkan organ vitalnya yang lunglai itu ke dalam celana dalamnya lalu mengenakan kembali celananya. Jarwo tetap berdiri tegak dan tidak mampu berkata apa-apa kecuali melongo dengan nafas tersengal-sengal.

Si gadis kemudian menghampirinya, mengelus lembut pipi Jarwo dengan telapak tangannya, lalu menarik kedua tangan Jarwo untuk kemudian diletakkannya menyentuh bagian bawah perutnya yang dipenuhi bulu-bulu halus itu. Si gadis membiarkan sepasang tangan Jarwo meraba bagian itu sejenak lalu diraihnya jari tengah dari tangan kanan Jarwo dan dimasukkan ke dalam liang senggamanya sambil si gadis bergumam penuh kegelian.

Jarwo hampir saja melompat kaget ketika dia merasakan daging lembut yang hangat dan basah melingkupi jari tengahnya. Si gadis menarik keluar jari tengah itu lalu memainkannya di bibir luar kemaluannya seperti sedang memainkan jarinya sendiri. Aroma kenikmatan yang dialami si gadis membangkitkan stimulasi erotis dalam diri Jarwo. Jarwo merasakan batang kemaluannya kembali menggeliat menegang di antara kedua kakinya. Si gadis tertawa dengan suara pelan dan lirih, kedua tangannya merengkuh tubuh Jarwo dengan hangat.

Sesaat kemudian mereka berdua saling melepaskan hasrat dan nafsu dalam intercourse yang dahsyat dan dalam waktu yang lama. Senggama itu baru berakhir ketika Jarwo sudah benar-benar tidak sanggup ereksi lagi karena berulang kali mengalami ejakulasi. Ejakulasi-ejakulasi yang pertama dilakukannya di dalam tubuh wanita. Akhir dari malam itu begitu berkesan dan Jarwo berjalan pulang dengan langkah gontai penuh kelegaan sambil berulang kali menarik nafas panjang menghirup aroma berjuta rasa yang tersisa pada jari tengahnya.

Bersambung ke bagian 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *